PRABUMULIH, zonamerahnews.id — Semangat pengabdian dan kepedulian sosial kembali diwujudkan oleh alumni Kursus Mahir Dasar (KMD) IX Tahun 2026 Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Prabumulih bersama Satgas Pramuka Peduli Kota Prabumulih.
Kali ini, kegiatan diwujudkan melalui gotong royong membersihkan Masjid Al Amalan, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Prabumulih Selatan, Kota Prabumulih, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepedulian terhadap kebersihan rumah ibadah, tetapi juga merupakan bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL) alumni KMD IX 2026 sebagai implementasi hasil pendidikan dan pelatihan kepramukaan yang telah mereka ikuti.
Kegiatan diikuti alumni KMD IX 2026, yakni Fandri Heri Kusuma, C.PS, C.IJ, C.Neg, Mawarti Melly, S.Pd., Ani Eliza, S.Pd., dan Rohman Yusuf, S.Pd.

Turut bergabung dalam kegiatan tersebut perwakilan Satgas Pramuka Peduli Kota Prabumulih, yakni Wagiran dan Ansyor Kusnadi, S.H.
BUKAN SEKADAR GOTONG ROYONG
Gotong royong membersihkan masjid tersebut memiliki makna yang lebih luas. Bagi alumni KMD, kegiatan ini menjadi sarana untuk menerapkan nilai-nilai kepramukaan dalam kehidupan nyata, khususnya semangat pengabdian, kepedulian, kerja sama, tanggung jawab dan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam proses pendidikan kepramukaan, KMD bukanlah akhir dari proses pembelajaran seorang pembina atau calon pembina. Setelah mengikuti KMD, peserta masih memiliki tahapan tindak lanjut melalui Narakarya sebagai bagian dari proses penerapan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang diperoleh selama kursus.
Karena itu, RTL menjadi penting agar materi yang diperoleh selama KMD tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kegiatan nyata di lingkungan masyarakat maupun gugus depan.

MEMAHAMI MAKNA NARAKARYA
Secara sederhana, Narakarya dapat dipahami sebagai masa pengabdian dan penerapan hasil kursus setelah seorang peserta menyelesaikan pendidikan kursus kepramukaan.
Pada tahap ini, peserta dituntut untuk menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama KMD mampu diterapkan dalam kegiatan kepramukaan secara nyata.
Dengan demikian, Narakarya bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif untuk memperoleh tanda atau bukti penyelesaian kursus. Lebih dari itu, Narakarya merupakan proses pembentukan karakter seorang pembina agar memiliki pengalaman dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan mempertanggungjawabkan kegiatan kepramukaan maupun kegiatan pengabdian.

Semangat tersebut sejalan dengan prinsip dasar Gerakan Pramuka yang menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai proses pendidikan nonformal yang membentuk watak, kecakapan hidup dan karakter peserta didik melalui kegiatan yang menarik, menantang dan bermanfaat.
RTL SEBAGAI BUKTI IMPLEMENTASI
Kegiatan sosial seperti gotong royong di Masjid Al Amalan menjadi salah satu contoh bagaimana RTL dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang sederhana, tetapi memiliki nilai pendidikan dan sosial yang kuat.
Membersihkan lingkungan masjid mengajarkan bahwa seorang anggota Gerakan Pramuka tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis kepramukaan, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya.
Pengabdian tidak selalu harus dimulai dari kegiatan besar. Terkadang, membersihkan tempat ibadah, membantu masyarakat dan menjaga lingkungan merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai kepramukaan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, alumni KMD IX 2026 diharapkan semakin memahami bahwa seorang pembina Pramuka harus mampu menjadi contoh di tengah masyarakat.
DARI KMD MENUJU PENGABDIAN
KMD memberikan bekal dasar kepada peserta untuk menjadi pembina Pramuka. Namun, kualitas seorang pembina tidak hanya ditentukan oleh sertifikat atau tanda kelulusan kursus.
Pengalaman mengabdi, kemampuan bekerja sama, kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat serta konsistensi dalam menjalankan kegiatan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan seorang pembina.
Oleh sebab itu, Narakarya dapat dimaknai sebagai jembatan antara teori yang diperoleh dalam KMD dengan praktik pengabdian di lapangan.

Melalui RTL, alumni KMD diharapkan tidak berhenti pada status sebagai peserta yang telah mengikuti kursus, tetapi benar-benar tumbuh menjadi insan yang mampu memberikan kontribusi bagi Gerakan Pramuka dan masyarakat.
Kegiatan di Masjid Al Amalan pun menjadi pengingat bahwa semangat Pramuka bukan hanya tentang seragam, kegiatan perkemahan ataupun upacara, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir, bekerja dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Dari KMD menuju pengabdian, dari ilmu menuju aksi nyata.”
#indonesiascoutjurnalist













