Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example floating
Example floating
Artikel

Di Balik Sabuk Pengajar Kisah Suka Duka Guru yang Jarang Terdengar

59
×

Di Balik Sabuk Pengajar Kisah Suka Duka Guru yang Jarang Terdengar

Sebarkan artikel ini

Pak Herman Tegasnya yang Menanamkan Kata-kata dalam Jiwa

Kenangan tahun 1988 hingga 1990 di SDN 1 Prabumulih, sebelum saya pindah ke Pulau Jawa. Tulisan ini adalah kisah nyata dari penulis.

Suara bel sekolah yang pelan menggema di pagi hari. Jalanan beraspal yang tidak rata di wilayah Km 6 Prabumulih masih tergenang genangan air hujan kemarin. Saya ingat betul bagaimana sepatu sekolah saya yang bolong menyedot lumpur setiap kali saya berlari menuju kelas. Dan di sana, di depan papan tulis yang penuh dengan huruf-huruf besar, selalu ada beliau – Pak Herman.

Ada kalanya kita melihat guru hanya sebagai sosok yang berdiri di depan kelas, menjelaskan pelajaran, dan memberikan tugas. Kita melihat sabuk pengajar yang mengikat pinggangnya, senyum yang sering mereka tunjukkan, tapi jarang sekali kita menyadari – di balik itu semua tersimpan ribuan cerita suka duka yang membentuk setiap jiwa muda bangsa.

Di Kelas SDN 1 Prabumulih, Ada Sosok yang Berbeda

Beliau adalah Pak Herman – dikenal di sekitar kawasan karena wajahnya yang tegas dan cara mendidiknya yang kuat, tapi siapa yang tahu, di balik kekerasannya tersimpan kasih sayang yang dalam. Bagi saya dan teman-teman sekelas, belajar menulis alus dan kasar bukan hanya tugas biasa yang harus diselesaikan.

“Setiap garis harus lurus,” ujarnya sambil menunjuk ke buku tulisan saya yang penuh dengan goresan tidak rapi. “Setiap lekukan harus tepat, dan setiap huruf harus berdiri tegak – sama seperti kamu nantinya harus berdiri tegak menghadapi hidup.”

Saat itu saya baru mengerti sedikit tentang apa yang beliau maksud. Hanya tahu bahwa jika tulisan saya tidak rapi, beliau akan meminta saya mengulanginya berkali-kali – bukan dengan marah, tapi dengan kesabaran yang tiada akhir. Kadang kala, tangannya yang besar dan kasar karena sering menulis dengan kapur akan menopang tangan saya yang masih kecil, membimbing setiap gerakan pena agar menghasilkan bentuk huruf yang sempurna.

Mereka yang Menggenggam Tiang Pancang Pendidikan

Sejak zaman dulu, guru selalu disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Saya baru mengerti maknanya saat dewasa. Pak Herman selalu datang lebih pagi dari semua siswa, menyusun materi dengan cermat di atas meja kantor yang penuh dengan tumpukan buku. Ia pulang lebih larut dari biasanya, hanya untuk mengoreksi tugas ratusan lembar dengan teliti – bahkan memberitahu saya dengan detail mengapa huruf “a” saya masih miring ke kiri.

Tak hanya mengajarkan angka dan huruf, beliau juga membentuk karakter kita. Ketika saya merasa minder karena tidak bisa menyelesaikan soal matematika, ia mengelus kepala saya dengan lembut. “Jangan menyerah begitu saja,” katanya. “Setiap orang punya waktu sendiri untuk memahami sesuatu.”

Mereka adalah orang yang rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi memastikan tidak seorang pun siswanya tertinggal. Saya pernah melihat Pak Herman makan roti kering di kantor saat istirahat, hanya karena ia ingin menggunakan waktu makan siang untuk membimbing teman sekelas yang kesulitan membaca.

Ketegasan yang Sering Salah Dipahami

Di era yang serba terhubung sekarang, peran guru semakin berat. Ketika mereka mencoba memberikan pembinaan dan ketegasan untuk membentuk disiplin, terkadang hal itu dianggap sebagai kekerasan. Ada guru yang dilaporkan, dihujat, bahkan diperlakukan seolah mereka adalah orang yang jahat – padahal tujuan mereka hanya satu: ingin anak-anak kita menjadi pribadi yang lebih baik dan siap menghadapi dunia.

Padahal, ketika siswa mengalami kesulitan atau mendapatkan nilai rendah, guru juga yang sering menjadi target kritikan. “Guru tidak mengajar dengan baik,” ujar sebagian orang tua. “Guru tidak memperhatikan anak saya,” tukang lain. Seolah semua tanggung jawab pendidikan hanya berada di pundak mereka, tanpa melihat kondisi siswa, dukungan keluarga, atau lingkungan yang melingkupi.

Ketegasan Pak Herman memang terkadang membuat kita sedikit takut. Tapi saya tahu, di balik setiap teguran ada perhatian yang mendalam. Ia tahu setiap murid punya potensi tersendiri – hanya perlu disulap dengan kesabaran dan arahan yang tepat.

Ia tidak hanya mengajarkan cara menulis dengan benar, melainkan juga mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang berharga.

Hanya Tuhan yang Tau Beban yang Mereka Tanggung

Banyak guru yang pergi ke sekolah dengan hati yang penuh semangat, tapi pulang dengan badan yang lelah dan hati yang terluka. Mereka menangis diam-diam saat melihat siswanya mengalami kesusahan, khawatir tanpa akhir tentang masa depan anak-anak didiknya, dan terkadang merasa tidak dihargai oleh lingkungan yang seharusnya mendukung.

Namun meskipun begitu, mereka tetap datang ke kelas setiap hari. Karena di dalam hati mereka ada kepercayaan yang kuat – bahwa setiap usaha yang mereka lakukan akan membawa perubahan bagi kehidupan siswa. Mereka percaya bahwa satu hari nanti, anak-anak yang mereka didik akan menjadi orang yang berguna bagi negara dan masyarakat.

Guru bukanlah makhluk sempurna. Mereka juga punya kekurangan dan kesalahan. Tapi satu hal yang tidak bisa disangkal: tanpa mereka, tak akan ada dokter yang menyelamatkan nyawa, pengusaha yang menciptakan lapangan kerja, ilmuwan yang menemukan solusi bagi dunia, atau pemimpin yang membawa perubahan baik.

Hari ini, ketika saya sudah bisa menyusun kata-kata untuk menyentuh hati banyak orang sebagai seorang penulis, saya selalu mengingat sosok Pak Herman. Sampai kini, kabar beliau tidak saya ketahui dengan pasti – apakah beliau masih sehat, atau sudah menikmati masa pensiunnya dengan tenang.

Namun setiap kali pena saya menyentuh kertas, atau jari saya menyentuh keyboard, saya merasakan bahwa tegasan dan kasih sayang Pak Herman masih hidup dalam setiap kata yang saya tulis. Tidak hanya beliau – ribuan guru seperti dia di seluruh negeri telah menanamkan benih pengetahuan dan karakter dalam hati kita.

Mari kita berikan mereka tempat di hati kita, dukungan yang mereka butuhkan, dan penghargaan yang layak. Karena mereka adalah orang yang rela menyulap masa depan bangsa dengan tangan mereka sendiri.

Oleh Deni Wijaya

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *