PRABUMULIH, zonamerahnews.id – Isu mengenai utang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Prabumulih yang disebut mencapai angka fantastis Rp31 miliar belakangan ini menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Nilai yang sangat besar ini memicu banyak pertanyaan publik: bagaimana mungkin angka setinggi itu bisa terbentuk tanpa terdeteksi atau dicegah sejak awal?
Pertanyaan inilah yang akhirnya membuat Ujang, seorang pengemudi taksi daring yang setiap harinya berkeliling kota dan mendengarkan berbagai cerita warga, ikut tersentak dan berkomentar panjang lebar atau dalam bahasa setempat disebut angat bedengkang.
“Waduh! Tiga puluh satu miliar itu bukan uang receh, lho. Kalau dipakai beli pempek adaan, bisa-bisa kenyang satu kota Prabumulih,” celetuk Ujang sambil menunggu pesanan penumpang di pinggir pasar.
Berdasarkan informasi yang beredar, penanganan hukum terkait kasus ini sebenarnya sudah berjalan. Namun, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan kecepatan dan perkembangan penyelidikan yang dinilai berjalan lambat. Keluhan inilah yang paling sering didengar Ujang dari para penumpangnya.
“Katanya sih, surat-surat resmi dari aparat penegak hukum sudah turun sejak berbulan-bulan lalu. Pihak kepolisian juga sudah bergerak. Tapi warga sering bertanya ke saya, perkembangannya sampai mana? Kok belum ada titik terang?” ujar Ujang menirukan pertanyaan warga.
Selain proses hukum, sorotan tajam juga tertuju kepada Dewan Pengawas (Dewas) RSUD. Secara aturan dan kelembagaan, Dewan Pengawas memiliki tugas utama mengawasi jalannya operasional serta pengelolaan keuangan rumah sakit.
Bagi Ujang yang sederhana, logikanya pun sangat mudah dimengerti.
“Saya saja kalau lagi bawa mobil, begitu lampu indikator bensin menyala, saya sudah panik cari pom bensin. Masa utang sampai puluhan miliar menumpuk, kok tidak ada satu pun yang sadar atau merasa bertanggung jawab?” katanya sambil tertawa kecil.
Menurut Ujang, masyarakat tentu sangat berharap ada penjelasan yang gamblang dan terang benderang mengenai bagaimana kondisi ini bisa terjadi. Pasalnya, masalah ini bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan kesehatan yang seharusnya diterima warga.
Hal yang paling penting, tegas Ujang, adalah memastikan bahwa seluruh angka yang beredar nantinya benar-benar sesuai dengan hasil pemeriksaan dan audit resmi yang sah.
“Jangan sampai masyarakat makin bingung. Kalau memang utangnya sebesar itu, jelaskan rinciannya. Kalau ternyata setelah diperiksa angkanya berbeda, jelaskan juga perbedaannya. Intinya, semua harus transparan dan terang benderang, jangan ada yang ditutup-tutupi,” tegasnya.
Ujang juga berpesan agar manajemen rumah sakit yang saat ini bertugas dapat tetap fokus dan tenang dalam menjaga pelayanan kepada masyarakat.
“Biarkan aparat hukum yang menyelidiki masalah masa lalu. Tugas pokok rumah sakit itu mengobati orang sakit. Jangan sampai pelayanan ke warga malah terganggu atau berkurang kualitasnya hanya gara-gara urusan yang masih diproses hukum,” tambahnya.
Di mata Ujang, masyarakat Prabumulih sejatinya tidak menginginkan kegaduhan atau keributan. Yang diharapkan rakyat hanyalah kepastian hukum, keterbukaan informasi, dan keadilan.
Jika memang terbukti ada kesalahan atau penyimpangan, siapa pun yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkannya. Namun, selama masih dalam tahap pemeriksaan, publik berhak mendapatkan kejelasan berdasarkan fakta dan hasil penyelidikan, bukan asumsi atau kabar burung.
Demikian isi “Surat Ujang” hari ini. Setelah puas berpendapat dan angat bedengkang soal utang Rp31 miliar itu, Ujang pun kembali menyalakan mesin kendaraannya.
Notifikasi pesanan baru sudah muncul di layar ponsel. Rezeki kata orang, tidak boleh ditolak.
“Assalamualaikum, ya. Saya narik dulu. Semoga masalah ini cepat terang dan selesai, jangan sampai jadi utang gaib yang ceritanya malah lebih panjang dari antrean berobat di puskesmas,” pungkasnya sambil melaju.
Sementara itu, pihak Redaksi Chanelinfo mengonfirmasi bahwa tulisan “Surat Ujang yang Angat Bedengkang” yang dibagikan melalui akun Facebook Angga Novlianta merupakan bagian dari serial tulisan satir dan esai sosial yang rutin dimuat.
Saat dikonfirmasi pada Senin (1/6/2026), Angga Novlianta membenarkan bahwa tokoh “Ujang” adalah karakter fiktif yang dihadirkan untuk menyuarakan kepeduliannya terhadap berbagai persoalan yang berkembang di Kota Prabumulih, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
“Ujang hanyalah media penyampaian pesan. Melalui bahasa sederhana, gaya humor, dan logika khas wong kito, Ujang kami hadirkan untuk menyuarakan kegelisahan, pertanyaan, sekaligus harapan masyarakat terhadap berbagai isu penting yang terjadi di Prabumulih,” jelas Angga.
Menurutnya, gaya bertutur Ujang sengaja dibuat ringan dan dekat dengan keseharian, namun tetap memuat pesan sosial yang mendasar. Tujuannya agar masyarakat tidak kehilangan kepedulian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan bersama.
Ia menegaskan bahwa tulisan ini merupakan sebuah opini satir yang bertujuan mendorong transparansi, akuntabilitas, serta meningkatkan kepedulian publik terhadap tata kelola pembangunan dan pelayanan masyarakat di Kota Prabumulih.














