Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example floating
Example floating
Artikel

LONCENG BULGARIA TITIK DIDIH GENERASI Z DAN ANCAMAN BAGI KEKUASAAN

72
×

LONCENG BULGARIA TITIK DIDIH GENERASI Z DAN ANCAMAN BAGI KEKUASAAN

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam dengan Sedikit Gula

Sejarah tak pernah benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi, menunggu momentum yang tepat untuk bangkit dan menuntut keadilan.

Peristiwa di Bulgaria pada Desember 2025 adalah sebuah peringatan keras dari masa depan, sebuah surat kaleng yang mampir di meja kekuasaan kita.

Jatuhnya rezim di Sofia, di tangan Martin Atanassov, seorang remaja 18 tahun, bukanlah sekadar drama politik biasa. Itu adalah ledakan katup pengaman yang tersumbat oleh korupsi dan anggaran yang pongah.

Bagi para penguasa di Jakarta, peristiwa Bulgaria adalah cermin retak yang memantulkan realitas pahit: jangan pernah merasa aman di balik barikade kekuasaan jika rasa keadilan di hati rakyat telah lama mati.

Normalisasi Pembungkaman: Altar bagi Martir Baru

Laporan Amnesty International tentang vonis praperadilan terhadap Delpedro dkk pada Oktober 2025 adalah noda hitam yang pekat dalam catatan demokrasi kita. Menormalisasi pembungkaman aktivis Gen Z dengan pasal-pasal karet adalah kekeliruan fatal.

Ketika negara menyeret suara-suara kritis seperti Laras dan Delpedro ke pengadilan, negara sebenarnya sedang membangun altar bagi lahirnya martir-martir baru.

Hukum yang ditekuk untuk melayani kekuasaan hanyalah sumbu pendek menuju revolusi.

Solidaritas Pink-Hitam-Hijau: Kode Perlawanan Gen Z

Perhatikan jalanan. Simbol merah muda, hitam, dan hijau yang menjalar bukan sekadar urusan estetika busana.

Itu adalah kode perlawanan, warna-warna yang mengikat solidaritas lintas kelas. Dari pengemudi ojek online yang merasa “dilindas” kebijakan nir-empati pada Agustus lalu, hingga mahasiswa yang muak melihat hutan adat di Papua dan Aceh ditebang demi syahwat investasi, semua bersatu dalam satu tujuan: menuntut keadilan.

Slogan “Semakin Ditindas, Semakin Melawan” kini menjadi doktrin sosiologis yang organik. Gen Z adalah gerakan rhizome yang merambat tanpa pusat komando, namun menjalar ke mana-mana.

Mereka tidak membutuhkan pemimpin tunggal; mereka digerakkan oleh satu rasa muak yang kolektif. Menangkap satu kepala hanya akan menumbuhkan seribu kepala baru yang lebih militan.

Adil atau Tumbang: Pilihan di Tangan Prabowo-Gibran

Pemerintahan Prabowo-Gibran harus segera berbenah. Keserakahan atas lahan agraria, perusakan ekologi, dan kriminalisasi anak muda adalah bahan bakar yang sempurna bagi api revolusi.

Gen Z Indonesia bukanlah penonton pasif; mereka adalah pencatat ketidakadilan dalam memori digital yang abadi.

Jangan paksa lonceng revolusi berdentang lebih keras di tanah air. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat, termasuk mereka yang “muda dan berisik,” adalah satu-satunya jangkar yang tersisa. Tidak ada opsi lain.

Sebab, kekuasaan yang rakus tak ubahnya ampas kopi yang tertinggal di dasar cangkir: pahit, hitam, dan pada akhirnya akan dibuang. Jika keadilan tidak segera ditegakkan, pemerintahan ini hanya sedang menunggu waktu hingga “kafein” amarah Gen Z memuncak dan jantung kekuasaan berdegup terlalu kencang untuk bertahan.

Berbuat adillah sekarang, sebelum amarah mereka menyeduh revolusi yang jauh lebih pekat dari kopi mana pun yang pernah Anda cicipi.

(Batavia, 26 Desember 2025)

Sunting Deni Wijaya

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *