Beberapa Hari Sebelum Keberangkatan – Pulau Burung
Matahari baru mulai menyingsing perlahan di atas hamparan laut yang tenang. Saya melangkah menyusuri jalan setapak menuju pusat pemukiman, udara pagi masih segar dengan campuran aroma tanah basah dan sedikit bau garam yang terbawa angin dari arah pelabuhan.
Setiap langkah seolah mengingatkan saya, betapa jauh perjalanan yang telah ditempuh oleh masyarakat kecil di pulau ini.
Pak Amat yang Menjaga Laut
Di tepi jalan, saya melihat Pak Amat – seorang nelayan berusia 65 tahun yang wajahnya sudah dipenuhi bekas garis waktu – sedang fokus menjahit bagian sobek jaring ikan.
“Pak Amat, lagi memperbaiki jaring ya?” saya sapa lembut.
“Iya nak, besok mau keluar laut lagi. Hasil tangkapan akhir-akhir cukup bagus lho,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.
“Kalau kehidupan di pulau ini sekarang bagaimana ya Pak?”
“Lebih baik dari dulu.
Ada kerja sama dengan Bang Topik, jadi hasil tangkapan ada tempatnya. Anak-anak juga bisa sekolah dengan tenang,” ucapnya dengan senyum yang penuh rasa syukur.
“Apakah ada yang ingin diperbaiki?”
“Kalau bisa jalan lebih bagus aja. Kadang hujan besar jadi sulit keluar rumah,” katanya sambil menarik napas panjang.
Bu Siti dengan Warungnya yang Hangat
Tak jauh dari situ, asap tipis dari tungku kayu muncul dari arah warung milik Bu Siti yang berasal dari Palembang.
“Bu Siti, warungnya sudah buka?” saya mendekat.
“Sudah nak, mau kopi hangat tidak? Banyak nelayan yang mampir sini setelah menyelesaikan transaksi hasil tangkapannya,” ucapnya sambil mengocok gelas kopi.
“Bu suka tinggal di sini kan?”
“Ya dong. Meski jauh dari kampung halaman, tapi masyarakatnya baik dan saling membantu. Hidupnya damai saja,” jawab Bu Siti dengan senyum hangat.
Polisi yang Jadi Teman Masyarakat
Saat melanjutkan perjalanan ke kantor Polsek, saya melihat Aipda Aspinar sedang memeriksa kondisi sekitar pemukiman.
“Pak Aspinar, lagi patroli ya?”
“Iya nih, cek kondisi pemukiman aja. Kita harus jaga keamanan agar semua orang bisa bekerja dengan tenang,” jelasnya.
“Bagaimana hubungan polisi dengan masyarakat di sini?”
“Sangat baik. Kita bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga membantu kalau ada masalah ekonomi atau sosial masyarakat,” ucapnya dengan suara yang tegas namun ramah.
Kerja Sama yang Bawa Harapan
Di dalam kantor Polsek, AKP Dr. Irwanto Tanjung, S.H., M.H. – Kapolsek Pulau Burung sedang berbincang dengan Deni Wijaya, seorang jurnalis dari Sumatera Selatan.
“Pak Kapolsek, sedang berbincang apa ya?” saya sapa.
“Kita lagi bahas tentang bagaimana menyebarkan informasi tentang program belajar malam untuk anak-anak nelayan,” jawab AKP Irwanto.
“Hai,” ucap Deni dengan senyum. “Saya lagi kumpulin data buat berita tentang perkembangan ekonomi di pulau ini.”
“Bagaimana kerja sama antara kepolisian dan media bisa berjalan dengan baik?” tanya saya.
“Sejak dua tahun yang lalu kami mulai bekerja sama,” jelas AKP Irwanto.
“Deni membantu kita menyampaikan informasi yang benar, sementara kami bantu akses sumber untuk beritanya.”
“Benar Pak,” tambah Deni.
“Saya juga sering ajak perusahaan di Sumatera Selatan untuk melihat potensi di sini.
Banyak yang tertarik untuk berinvestasi setelah melihat berita yang kami publikasikan.”
“Tujuan utama kita sama saja – membantu masyarakat pulau ini untuk hidup lebih baik,” pungkas Kapolsek dengan pandangan yang penuh harapan.
Mimpi Anak Muda untuk Pulau
Saat kembali ke tempat tinggal, saya bertemu Mas Rio – seorang pemuda berusia 23 tahun – yang sedang memuat keranjang udang ke atas motor.
“Mas Rio, lagi apa nih?”
“Sedang kirim pesanan udang ke titik kumpul. Saya sekarang belajar jualan online biar produk lokal bisa sampai ke luar daerah,” katanya dengan semangat.
“Pandangan kamu tentang masa depan pulau ini gimana?”
“Semoga lebih maju aja. Infrastruktur baik, pendidikan juga lebih baik, pasti banyak anak muda yang mau tinggal dan berkarya di sini,” ucapnya dengan mata yang bersinar penuh harapan.
Pukul 06:30 WIB – Pelabuhan Pulau Burung
Kedipan mata saya masih terasa berat ketika mesin sepeda motor milik KK ipar menyala dengan suara yang akrab. Udara pagi di pelabuhan membawa aroma asin khas laut dan sedikit bau kayu bakar dari warung kecil yang baru saja membuka gerainya.
Bersama saya adalah KK ipar saya, saudara perempuan saya, dan keponakan saya yang sudah mahir mengendarai motor mereka yang telah tinggal di Pulau Burung kurang lebih enam tahun dan menjadikan pulau ini sebagai rumah kedua mereka.
“Siapakah yang mau naik belakang saya?” tanya keponakan saya dengan senyum ceria, sudah tidak sabar untuk memulai perjalanan. Saya memilih naik bersama KK ipar, sementara saudara perempuan saya menaiki motor yang dikendarai keponakan kita.
Jalan darat yang menghubungkan Pulau Burung dengan dermaga penyeberangan Pulau Sambu hanya memakan waktu setengah jam, tapi permukaan jalan yang bergelombang dan sering tergenang membuat perjalanan terasa lebih hidup kita harus saling mengingatkan agar tetap hati-hati saat melewati tikungan curam, sambil tertawa riang setiap kali roda motor sedikit selip di jalanan yang licin.
“Saya masih ingat waktu pertama kali naik motor dari sini ke dermaga,” ucap saudara perempuan saya sambil menahan badan agar tidak terlempar saat melewati jalan bergelombang.
“Jalanannya masih penuh dengan batu dan genangan air yang dalam. Saat itu kita baru saja tinggal setahun di sini, dan Bang Topik yang dagang kepiting bahkan menyuruh supirnya antar kita karena khawatir kami kesusahan.”
Pukul 07:00 WIB – Dermaga Kecil di Pulau Sambu
Saat kita sampai di dermaga, matahari mulai memancarkan sinarnya ke atas permukaan laut yang tenang. Sinar emasnya memantul di atas air, menciptakan kilauan yang indah seperti berlian yang menyebar di seluruh permukaan laut.
Kita membongkar barang-barang dari motor satu per satu dengan hati-hati – tas yang berisi pakaian, kotak makanan yang dibuat oleh saudara perempuan saya, dan perlengkapan yang saya butuhkan untuk menyusun catatan tentang kehidupan di pulau-pulau pesisir.
Semua kita simpan dengan aman di tepi dermaga yang rata, berbaring di atas tikar yang telah kita siapkan.
Keponakan saya berlari ke tepi dermaga, mengagumi bagaimana ombak kecil menyentuh pasir putih dengan suara yang lembut.
“Mang’ lihat ikannya” teriaknya sambil menunjuk ke bawah air yang jernih. Beberapa ekor ikan kecil berwarna-warni berenang cepat di bawah permukaan, kadang muncul untuk mengambil udara sejenak sebelum kembali menyelam.
Kita duduk bersila di tepi dermaga, menunggu kedatangan speed boat yang akan membawa kita langsung ke Sungai Guntung – seperti biasanya, karena sopir sudah diatur khusus untuk perjalanan kita hari ini.
Pukul 07:20 WIB – Keberangkatan Speed Boat
Tak lama kemudian, suara mesin speed boat terdengar dari kejauhan. Kapal kecil berwarna biru itu menghampiri dermaga dengan lancar, dan sopirnya – Pak Yanto yang sudah kenal keluarga saya selama bertahun-tahun – langsung melompat ke dermaga untuk membantu kita.
“Hari ini lautnya sangat tenang,” katanya sambil membantu membawa barang-barang kita ke dalam kapal. “Dalam kurang dari 5 menit dari Pulau Sambu sudah sampai di Sungai Guntung. Bang Topik juga sudah tahu kami akan datang hari ini dia bilang akan menunggu kamu di lapak dagangannya.”
Setelah semua orang naik dan barang-barang terpasang dengan aman di bagian belakang kapal, speed boat melesat menjauh dari Pulau Sambu.
Keponakan saya berdiri di bagian depan kapal, menikmati hembusan angin laut yang menyegarkan sambil mengayunkan tangan ke arah pulau yang semakin menjauh.
Saya berdiri di sebelahnya, melihat Pulau Sambu yang perlahan-lahan menghilang di balik kejauhan – pulau yang telah menjadi rumah bagi keluarga saya selama enam tahun, tempat di mana mereka membangun kehidupan baru dan bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti Bang Topik.
Saat kapal melaju kencang menyusuri jalur laut yang luas, beberapa nelayan yang sedang menangkap ikan menyapa kita dengan ramah.
Pak Yanto mengisahkan bahwa sebagian dari mereka adalah mitra kerja sama Bang Topik dalam bisnis kepiting mereka yang setiap hari pergi ke laut untuk mencari hasil tangkapan terbaik, karena tahu akan mendapatkan harga yang adil dari pria yang dikenal sebagai pemimpin bisnis kepiting di seluruh wilayah pesisir.
Pukul 08:15 WIB – Tiba di Sungai Guntung
Speed boat kita mulai melambat saat mendekati dermaga Sungai Guntung. Keramaian sudah terlihat jelas dari kejauhan – ratusan orang berkumpul di sana, sebagian adalah nelayan yang sedang mengantar hasil tangkapan kepiting mereka, sebagian lagi adalah pembeli yang sudah datang dari berbagai daerah.
Di tengah kerumunan itu, tampak sosok pria tinggi dengan rambut sedikit putih di pelipis sedang berjalan dengan cepat dari satu kelompok nelayan ke kelompok lain, memeriksa setiap keranjang kepiting dengan cermat sambil bertanya tentang kondisi laut saat menangkapnya.
“Itu dia, Bang Topik!” teriak keponakan saya dengan senang hati.
Pukul 08:30 WIB – Pertemuan dengan Bang Topik
Saat kita turun dari speed boat, sosok pria itu langsung mendekat dengan langkah santai sambil mengusap tangan yang sedikit basah karena sering menyentuh air laut dan kepiting.
“Kamu dari kampung Kak Enal ya?” katanya dengan senyum ramah, sudah mengenali saya berkat deskripsi yang diberikan Kak Enal saudara dari kampung saya yang dulu bertugas sebagai polisi di daerah Indragiri Hilir.
“Kak Enal sudah memberi tahu saya kamu akan datang bersama keluarga mu yang tinggal di Pulau Burung. Katanya kamu sedang menulis tentang kehidupan di pulau-pulau ini – ayo duduk di warung saya, saya akan cerita bagaimana bisnis kepiting ini bisa membantu banyak orang.”
Kita semua pergi ke warung kopinya yang terletak tepat di tepi Sungai Guntung, di samping gudang kecil yang digunakan untuk menyimpan dan mengemas kepiting sebelum dikirim ke berbagai tempat.
Keponakan saya langsung tertarik dengan deretan keranjang kepiting yang akan dikirim ke Palembang bahkan luar daerah, sementara saya dan keluarga duduk menikmati kopi hangat yang disajikan.
“Saya mulai dagang kepiting sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu,” mulai Bang Topik sambil menunjuk ke arah dermaga yang masih ramai. “Awalnya hanya membeli dari beberapa nelayan di sekitar Sungai Guntung saja.
Tapi ketika Kak Enal datang bertugas di sini lima tahun yang lalu, dia memberi saya ide untuk mengembangkan bisnis ini agar bisa membantu lebih banyak orang. Sekarang kita bekerja sama dengan nelayan dari Pulau Burung dan daerah sekitar – bahkan sudah ada pesanan dari luar negeri.”
Dia melanjutkan cerita, “Keluarga kamu juga pernah membantu lho, saat usaha mereka di Pulau Burung mengalami kesulitan. Saudara perempuan kamu bahkan mau mengajar anak-anak nelayan di kelas belajar malam yang kami dirikan bersama Kak Enal.
Saya selalu bilang, bisnis kepiting bukan hanya tentang mencari untung – tapi tentang bagaimana kita bisa saling membantu untuk meningkatkan taraf hidup bersama.”
Pukul 10:30 WIB – Perjalanan yang Berlanjut
Setelah beberapa jam berbincang dan melihat langsung bagaimana Bang Topik mengelola pasar kepiting dengan sangat teratur dan adil, saatnya kita harus melanjutkan perjalanan.
Bang Topik berdiri di pinggir pelabuhan untuk menyambut kita pergi, sambil menyerahkan sebuah kardus berisi kepiting bakau dan duku khas Inhil.
“Ini untuk Kak Enal,” katanya dengan senyum. “Dan untukmu juga – catatan tentang bagaimana kerja sama dengan nelayan dari Pulau Burung bisa membuat bisnis kepiting ini berkembang. Bisa kamu gunakan untuk melengkapi tulisanmu.”
Pukul 10:30 WIB, speed boat menuju Kuala Tungkal berangkat dan kami melalui beberapa pulau kecil sebelum sampai ke dermaga di Kuala Tungkal. Ada saat-saat yang membuat jantung berdebar kencang – mesin speed boat sempat mengalami kerusakan ketika ombak menerjang dengan kekuatan besar.
Namun beruntung sang sopir sudah berpengalaman, hingga akhirnya pada pukul 15:30 WIB kita tiba dengan selamat di dermaga Kuala Tungkal. Di sana kita menunggu Haji Tomi, pengurus travel yang sudah berlangganan dengan keluarga saya.
Dari sana naik travel menuju kota Jambi, hinggap pukul 19:30 WIB sampai di loket travel dan menyambung perjalanan ke kota Prabumulih.
Pulau Burung mungkin hanya sebuah tempat kecil di tengah lautan luas.
Tapi bagi saya, pulau itu adalah bukti bahwa kebaikan dan kerja sama antar manusia bisa mengubah hidup banyak orang. Kisah mereka adalah kisah harapan yang layak untuk disampaikan ke seluruh penjuru negeri.
Ditulis oleh – Jurnalis Asal Sumatera Selatan Deni Wijaya














